jagungputih-1Mengingat permintaan jagung biji putih yang cukup tinggi, baik sebagai bahan makan ternak maupun untuk makan sela, Pemerintah Kabupaten Grobogan bertekad melakukan penanaman dan mengembangkan jagung putih, meski minat petani terhadap jagung hibrida kuning lebih tinggi dari jagung putih, karena tingkat produktivitasnya tinggi dan jaminan pemasarannya lebih luas.

Wakil Bupati Grobogan Icek Baskoro, SH mengungkapkan, saat ini luas areal tanaman jagung putih di Grobogan setiap tahunnya memiliki lahan 50 hektar. Sedangkan areal tanaman jagung biji kuning setiap tahunnya tidak kurang dari 95.000 hektar.

”Dengan tidak imbangnya luas areal dan produksi jagung putih dan kuning tersebut, kami berinisiatif mengembangkan jagung biji putih jenis unggul yang tingkat produktivitasnya paling tidak sama dengan jagung kuning,” kata Wabup, setelah lawatan rombongan Pemkab Grobogan melakukan kunjungan kerja ke Balai Penelitian Tanaman Serealia (Balitsereal) di Maros, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Dalam rombongan yang diikuti oleh Plt. Ketua DPRD Sri Sumarni, SH, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Dinpertan TPH) Grobogan Ir. Edhie Sudaryanto, Kepala Badan Ketahanan Pangan HM Hidayat, Ketua Komisi B DPRD Agus Siswanto dan anggota, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Riyanto, sejumlah PPL dan wakil kelompok tani. Rombongan diterima Ahli Peneliti Utama Pemuliaan Jagung Balitsereal, M Yasin HG.

Wabup menjelaskan, Kabupaten Grobogan merupakan produsen jagung terbesar di Jawa Tengah. Dengan luas areal 95.000 hektar, produksinya mencapai 600.000 ton per tahun. Namun produksi jagung putih di daerahnya hanya sekitar 200 ton dari areal 50 hektar.

”Maka untuk menyeimbangkanya, kami berinisiatif mengembangkan jagung biji putih. Caranya kami harus belajar dan mengetahui jagung putih unggul yang telah dilepas Balitserial Maros,” terang Icek.

Kepala Dipertan TPH Edhie Sudaryanto menambahkan, permintaan jagung biji putih belakangan ini cukup besar. Selain untuk makanan sela masyarakat yang dikenal cukup gurih dan manis, juga perusahaan makanan ternak membutuhkan jagung putih untuk bahan baku.

”Petani Grobogan enggan menanam dan mengembangkan jagung putih karena tingkat produktivitasnya rendah hanya sekitar 4 ton per hektar dan pemasarannya hanya sebatas untuk makanan sela. Sedangkan jagung kuning produktivitasnya mencapai 6-7 ton, dan pemasarannya terjamin karena perusahaan makanan ternak banyak yang membutuhkan,” tambah Edhie.

Menanggapi hal itu, ahli peneliti utama pemuliaan jagung Balitsereal Maros, M Yasin HG, mengatakan, jika melihat kondisi tanah dan iklim yang ada di Grobogan, jenis jagung putih yang cocok ditanam di Grobogan adalah Bima Putih I. Selain tahan panas matahari, juga produksinya cukup besar, rata-rata mencapai 11 ton per hektar. Tidak hanya itu, jenis Bima Putih I ketika tongkolnya dipanen, daunnya masih tampak hijau.

”Sehingga sangat cocok untuk makanan ternak sapi, dimana Grobogan merupakan produsen sapi potong terbesar kedua di Jateng setelah Kabupaten Blora,” jelasnya.